Langkah Hidup Menuju Takdir
Menerjang Gabir
Cerahmu menyimpang; Berau melancong, diselip klotok — yang terbias laju ombak
Nelayan payang bersiah ke sisi pantai; berangkat dengan sejambar konservasi, melibat jaring angkat, memilah botol bekas, serta-merta laut rembang
Kerang berkamuflase — menyilik corak dermaga, tangkai kayu mengubah pasir putih seperti sedia kala menyimpan misteri kedalaman lara
Pemandangan; inai-inai gemulai, lewat desir sore, aku menggamat kepiting pantai
Ya, pulauku kudengar kau sedang merinai..
2023
*
Takdir Buatan
Alam buatan. Vaksin buatan. Dunia buatan. Robot buatan. Kita sedang membuat ketenangan dari tisikan jarum jam melalui media buatan
Tusuk-mematuk, ringis-mengikis, jalan-kebenaran
Tuhanku, aku mengadu. Mengapa saban hari takdirmu menjadi buatan?
2023
*
Langkah Hidup Menuju Takdir
Pergi dari rumah ini dan kita akan temukan jawaban hidup lewat kota-ke-desa. Menimang-nimang kenangan masa lalu; dan kita akan mendengar suara-suara dek kapal di sana, berlayar—menangkap sebuah perjalanan masa depan
Pergi dari rumah ini dan kita akan menangis ketika dua-tubuh renta memaki-maki. Masing-masing mempertanyakan hidup, untuk apa sebenarnya mati? jiwa-jiwa diciptakan dari kesendirian yang sedari lahir kita tidak tahu, tidak mengerti bagaimana cara menghindar dari keramaian
Pergi dari rumah ini dan kita akan pergi, pergi berjalan tanpa henti. Kaki-kaki telah kandas oleh langkah tertatih—apakah kita sedang di rumah? apakah kita di luar rumah?
Pergi dari rumah ini dan kita akan terbangun di mana hidup adalah masa depan. Lalu mengerling, seolah rumah telah tiada di benak kita. Barangkali rumah seperti aula, barangkali rumah berbentuk istana, barangkali rumah ada di hutan, barangkali rumah adalah Tuhan?
Pergi dari rumah ini dan kita akan termenung. Tercenung sendiri dari rentetan perjalanan kepala tentang rumah. Kau bertanya:
Apa kita sudah pulang?
Ya, kita telah berpulang kawan.
2023
*
Tabiat
Aku bosan dengan senja alam, yang sering orang lain dambakan disaat ia berpura-pura menjadi bijaksana
Aku enggan berdiskusi bersama kopi, walaupun semua orang senang dengan pahitnya rasa di lidah
Aku mau yang berbeda, yang tidak pernah dibahas lewat pikiran-pikiran manusia
Aku; lebih suka tengah malam — ditemani buku dan air putih. Hanya itu yang aku mau; sunyi, tenang, damai, yang menggambarkan kepribadianku.
2023
Penulis: Rifqi Septian Dewantara asal Balikpapan, Kalimantan Timur. Karya-karyanya pernah tersebar di beberapa media online dan buku antologi puisi bersama. Kini bergiat dan berkarya di Halmahera, Maluku Utara.