Wed, 28 Feb 2024
Puisi / Jan 13, 2024

Yang Mati Usai Bahagia

Pada Setapak yang Kita Pijak

 

Jalan masih panjang dan aku sendirian

Benar-benar sendirian

Menapaki garis waktu membuatku terenyahkan dari gemerlap dunia

Sejak saat itu, alunan melankolis itu tak pernah lagi kudengar

Sayup-sayup tak berirama yang saat ini singgah hanya membuatku kehilangan arah, lagi

Menuju ruang tak bertuan

 

Merpati mencoba menyapaku dengan candaan paruhnya

Sayangnya, aku telah terlampau jauh di tengah padang

Naskah alur kehidupan sudah sedari dulu menunggu

Tetapi sukma lebih memilih angin untuk menerbangkanku

Jauh

Tak terjamah lagi

 

2020

*

 

Dimensi Rasa

 

Apa yang lebih sakit dari kematian

Angin menari di atasku tanpa wujud

Mengusap tengkuk ketika langit hendak menangis

Aku tertegun, kau membuatku melayang

 

Apa yang lebih sakit dari kematian

Saat api hendak membakar

Ia tampak angkuh penuh sosok

Aku tertegun, kau membuatku menangis

 

Apa yang lebih sakit dari kematian

Saat kau ada, namun tanpa rasa

Saat kumerasakan rasamu,

Kau tiada

 

Apa yang lebih sakit dari kematian

Kisahmu laiknya wakil-wakil tuhan

Maka jika bahagia; wajah merekah

Adalah diksi paling memuakkan

 

2020

*

 

Pergi

 

Sebab air bisa menghanyutkan

Maka semua orang berusaha melepas

Sementara daun ikut melambai

Petugas pelabuhan mengumpat kelelahan

 

2022

*

 

Pulang

 

Lelucon membasahi kering tanah di hatimu

Meski sesaat serupa angin yang bertamu

Ketika di meja Warung Kopi Daeng berdinding kayu

Menguar kegetiran dari mata-mata sayu

 

Matamu menembus kegersangan

Senyum-senyum merekah mereka

Dalam kebingungan kata menjamah waktu kota

Yang tak tahu malu mendikte kepala-kepala

 

Di antara mereka gemar memotret kehampaan

Yang ramai dalam kebisingan, lalu

Kau merekam kehampaanmu

Tumpah ruah dalam dinding kamarmu

 

Kau diksi suci dalam serapah lagu-lagu

Menemani jalan panjang menuju rumahmu

Yang sama sekali tak berujung

Menuju pulang

 

2023

*

 

Yang Mati Usai Bahagia

 

Tubuhku adalah pemakaman yang ramai

Saban hari orang-orang asyik berziarah

Untuk meminta kemakmuran dan restu

 

Dan kematian-kematian yang kau antarkan

Tanpa belas kasih, menujuku

Tapi apakah arti pemakaman tanpa kesedihan?

 

Langkahmu menghentak, dedaunan luruh

Bisikmu lirih

memintaku duduk memesan bahagia

Pada pohon-pohon kamboja

 

2023

*

 

Perempuanku

 

Suatu malam yang lembab

Perempuanku tidurnya tidak lelap

Ia duduk di tepi ranjang

Matanya menyorot jendela mengambang

 

Bungkam

 

Di luar, bulan cahayanya biru

Perempuanku masih diam ketika aku asyik meremas dua

Tonjolan di dadanya yang telanjang

 

Perempuanku mengangkang

payudaranya mengayun

kendur

 

Lidahnya Mengeluarkan nyanyian-nyanyian sendu

Matanya sayu

Air mukanya menyedihkan

 

Ia berkata

Jika tak ada payudara dan vagina

Masihkah,

Aku hidup?

 

2023

 

Penulis: Naufal Fajrin JN, lahir 25 Maret 2000. Saat ini menempuh pendidikan di program studi Sastra Inggris Universitas Negeri Makassar. Selain menulis puisi, cerpen, dan esai, penulis juga menulis sebagai jurnalis untuk salah satu media pemberitaan daring di Indonesia. Ia menulis sejumlah puisi dalam album “Kendari Mencari, tapi Apa yang Hilang?” dan telah diterbitkan oleh sebuah komunitas literasi yang bernama Pustaka Kabanti yang berbasis di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara. Selain nomor telepon, penulis dapat dihubungi melalui DM Instagram @naufalfajrin.id atau dapat bertukar surat melalui surel naufalfjrn.jn@gmail.com

Pronesiata

Kami percaya jika semua tulisan layak untuk dibagikan. Tak perlu harus sempurna! Media ini ruang bagi semua yang memiliki karya tulisan.

© pronesiata.id. All Rights Reserved.