Wed, 28 Feb 2024
Resensi / Dec 03, 2021

Ayla: The Daughter of War

Film Ayla: The Daugther Of War diadaptasi dari kisah nyata selama perang Korea yang dimulai pada tahun 1950. Dikisahkan seorang laki-laki bernama Sulayman Dilbirligi merupakan seorang pasukan tentara Turki yang masih aktif. Film tersebut berlatar waktu pada tahun 1950.

Sulayman memiliki rencana untuk menikahi wanita pujaan hatinya di Turki dan memiliki kehidupan normal layaknya pasangan pada umumnya. Tetapi harapan itu harus tertunda karena waktu itu Sulayman yang berprofesi sebagai seorang tentara ditugaskan untuk ikut tugas negara dalam perang Korea. Lantaran, Turki menjadi salah satu negara yang masuk dalam keanggotaan PBB. 

Dalam perjalanan tugasnya di Korea Selatan, pasukan tentara Turki mencari para tentara dari Korea Utara yang waktu itu menyerang Korea Selatan bersama China. Dalam pencarian itu, tentara Turki sampai menyusuri hutan. Namun, ternyata semua tentara Korea telah membantai warga yang ada di sebuah desa.

Diketahui desa tersebut berada di dalam hutan. Ketika Suleyman menyusuri desa tersebut, bertemulah ia dengan seorang gadis kecil yang masih hidup yang terlihat menangis sembari memegang tangan ibunya yang sudah meninggal. Gadis itu kemudian dibawa pulang ke markas tentara Turki.

Suleyman memberinya nama “Ayla” karena wajahnya yang imut dan bulat seperti bulan. Sebenarnya ada alasan lain kenapa ia memberi nama anak itu “Ayla” itu karena Suleyman menemukannya tepat berada dibawah sinar bulan. 

Setelah selesai dengan tugasnya di Korea Selatan, divisi Turki diserang oleh pasukan Korea Utara. Pasukan Turki melawan pasukan Korea Utara dan akhirnya kemenangan berada di tangan Turki. Karena masa tugasnya di Korea sudah berakhir alias selesai, Suleyman harus kembali ke Turki.

Karena tidak ingin berpisah dengan Ayla, akhirnya ia memutuskan membawa Ayla ke Turki dengan memasukkannya ke dalam Koper. Namun, rencana itu diketahui pasukan tentara Turki lainnya. Dengan berat hati Suleyman meninggalkan Ayla di Korea Selatan. Iapun berjanji akan menemui Ayla lagi. 

Sekembalinya di Turki, rencana Suleyman menikahi gadis pujaan hatinya gagal karena gadis itu sudah menikah. Akhirnya, Suleyman menikah dengan gadis pilihan kedua orang tuanya bernama Nimet. Nimet adalah gadis cantik dan juga baik hati terlepas awalnya Suleyman tidak menyukainya.

Bahkan, Nimet juga menjadi partner Suleyman mencari Ayla. Suleyman dan sang istri, Nimet akhirnya bisa bertemu kembali dengan Ayla dalam kurun waktu 60 Tahun berkat bantuan besar dari reporter, istri dan pihak lainnya. 

Banyak sekali pembelajaran hidup yang dapat diambil dari film  hasil kerja sama Turki-Korea Selatan. Pertama bahwa kasih sayang tak terbatas oleh darah dan perbedaan budaya serta latar belakang lainnya. Kedua, bahwa seorang Ayah juga bisa merawat anak.

Masih banyak yang berpikir, hanya perempuan yang bisa mengurus anak dengan baik. Stigma tersebut terbantahkan jika melihat perjuangan Sulayman melindungi dan merawat Ayla mulai dari memotong rambut Ayla, memberikan makanan, dan hal lainnya. 

Salah satu momen mengharukan ketika Sulayman harus melepas Ayla karena perintah dari atasannya.. “Ayla memanggilku Baba (Ayah dalam bahasa Turki) dia tidak bisa tinggal tanpaku” sepenggal dialog dalam film tersebut. Seperti permintaan Sulayman sebelum dia meninggal dia harus bertemu dengan Ayla.

Dalam proses pencarian Ayla pun tidak mudah, karena nama “Ayla” tidak terdaftar di Korea Selatan. Berkat kesabaran wartawan dan Sulayman akhirnya Ayla bisa bertemu dengan Baba nya (Sulayman) setelah 60 tahun lamanya.

 

Penulis: Ulfiah Syukri, mahasiswa di Universitas Muhammadiyah Makassar, Deputy Director of Belajarbersama.id dan Editor.

Pronesiata

Kami percaya jika semua tulisan layak untuk dibagikan. Tak perlu harus sempurna! Media ini ruang bagi semua yang memiliki karya tulisan.

© pronesiata.id. All Rights Reserved.