feature-top

Manusia sebagai makhluk yang harus bersiap menghadapi beraneka ragamnya situasi dalam kehidupan tentu pernah dihadapkan dengan masalah. Tapi tak semuanya benar-benar berhadapan, banyak dari kita yang memilih melarikan diri ketika berhadapan dengan masalah. Aku menggunakan kata ‘kita’, karena aku pun pernah melarikan diri. Tetapi, kenapa sih kita bisa melawan atau melarikan diri? Dan apakah melarikan diri merupakan suatu tindakan memalukan?

Perlu diingat kembali, dengan beragamnya situasi yang bisa kita hadapi, tentu kita juga memiliki pilihan hak yang beragam dalam menanggapi situasi tersebut. Pertanggungjawaban atas pilihan tersebut kembali kepada diri kita masing-masing.

Berkowitz pada 1995 pernah menjelaskan bahwa ketika individu berhadapan dengan kejadian tidak menyenangkan, mereka akan mengalami kondisi afektif negatif atau sikap negatif yang tak terbedakan. Salah satu reaksi kondisi ini adalah stres. Reaksi ini kemudian akan menimbulkan respon lainnya, yaitu reaksi impulsif berupa perilaku melawan (fight) atau menghindar (flight). Perilaku melawan berkaitan dengan ingatan, pikiran dan respon perilaku yang berhubungan dengan agresi. Sedangkan menghindar dikaitkan dengan respon yang berhubungan dengan melarikan diri.

Bartlett dalam bukunya “Stress: Perspectives and processes”, mengatakan bahwa Cannon merupakan peneliti pertama yang memperkenalkan ‘Fight or Flight response’ sebagai konsep stres. Dalam hal ini, Cannon mengartikan stres sebagai respon tubuh terhadap suatu hal. Stres juga dinilai menyebabkan perubahan pada keseimbangan fisiologis yang dihasilkan dari rasangan fisik maupun psikologis.

Selye dalam buku Potter & Perry pada 2005 juga menilai stres sebagai respons manusia yang bersifat nonspesifik. Ia menuliskan sebuah karya ilmiah yang berjudul “The General Adaptation Syndrome and Diseases of Adaptation” dan membagi stress menjadi tiga fase reaksi pertahanan, yaitu tanda bahaya (alarm), perlawanan, (resistence) dan kelelahan (exhaustion).

Tahap pertama, Alarm, merupakan suatu situasi yang tidak diinginkan oleh individu dikarenakan terjadinya perbedaan antara kenyataan yang terjadi dan situasi yang diharapkan sebenarnya. Akibat dari perbedaan harapan dan kenyataan ini membuat tubuh individu menerima rangsangan dan secara alami mengaktifkan fight or flight karena adanya kondisi yang mengancam kestabilan tubuhnya.

Tahap kedua, Resistence, Reaksi tahap kedua ini memiliki kecenderungan melawan (fight). Perlawanan ini terjadi ketika alarm tak kunjung berakhir atau terus menerus berlanjut. Dampak dari tidak berhentinya alarm tersebut membuat reaksi perlawanan yang mengerahkan kekuatan fisik untuk menghentikan rangsangan yang membahayakan yang sedang menyerang. Reaksi tahap kedua ini memiliki kecenderungan melawan (fight)

Tahap Ketiga, exhaustion, ketika perlawanan tak mampu menghentikan stress, individu akan mengalami kelelahan. Dalam kondisi ini individu benar-benar tidak memiliki kesanggupan lagi untuk memberikan perlawanan terhadap sumber stres. Atau dengan kata lain, individu kehabisan tenaga dan kemampuan untuk melawan. Akhir dari reaksi ini adalah individu memilih menghindar atau melarikan diri (flight). Tak jarang perilaku flight berujung pada bunuh diri.

Gadzella dan kawan-kawannya pada 2012 menilai stres tidak selalu memberikan dampak negatif, karena stress juga bisa berdampak positif. Jika diibaratkan stres seperti dua sisi koin, memiliki sisi baik dan buruk.

Pada kenyataannya, fight maupun flight bukanlah tindakan memalukan. Yang memalukan adalah ketika kita flight tanpa fight sebelumnya. Menghadapi stressor berarti memberi individu waktu untuk mempelajari sumber stresnya agar lebih mampu dan berkembang kedepannya dalam menghadapi situasi lainnya.

Dengan memberikan perlawanan terhadap stres, individu justru dapat menuangkan ide yang menakutkan dalam keharusan menghadapi stresor serupa. Disaat stress menghadapi masalah terjadi, pahit manisnya masalah tersebut harus kita hadapi. Karena melarikan diri bukanlah tindakan yang mampu menyelesaikan masalah, ia hanya akan memperparahnya.

Melarikan diri memang mudah sekali dilakukan, namun sekali kita mengambilnya sebagai pilihan tanpa berjuang sebelumnya kita akan terus menjadikannya pilihan utama kedepannya. Dan bukannya memperjuangkan hidup, seumur hidup kita malah menjadi pelarian.


Referensi:
Berkowitz, Leonard (1995). Aggression : Its Causes, Consequences, And Control : Agresi 1: Sebab dan Akibatnya. (Terjemahan) PT. Pustaka Binaman Pressindo.
Bartlett, D. (1998). Stress: Perspectives and processes. Philadelphia, USA: Open University Press
Potter. P., & Perry A. P. 2005. Fundamental Keperawatan: Konsep dan Praktik Edisi 4, Volume 1. Jakarta: EGC.
Gadzella, B. M., Baloglu, M., Masten, W. G., & Wang, Q. (2012). Evaluation of the student life-stress inventory-revised. Journal of Instructional Psychology, 39(2), 82-91.

 

Penulis: Bayu, pronesiata.id.