Sat, 13 Apr 2024
Tips / Dec 23, 2020

Kiat-Kiat Mengusir Rasa Bersalah

Saat mendengar kata “bersalah”,  apa sih yang terlintas di benak Anda? Kenangan buruk, rasa sakit, merasa tidak enak dengan teman, sebab tidak dapat menepati janji atau menganggap negatif diri sendiri yang Anda pikirkan. Siapa yang tidak pernah merasa bersalah? Tentu, setiap manusia pasti pernah melakukan kesalahan.

Rasa bersalah merupakan bentuk emosional yang tidak dapat dihindari. Perasaan bersalah muncul lantaran pernah melakukan kesalahan atau menyakiti orang lain, baik itu dilakukan secara sadar maupun tidak. Menurut psikoanalisis (dalam Lynn O’Connor 1997), sumber utama rasa bersalah  berasal dari keinginan bawah sadar untuk menyakiti orang lain, motifnya seperti balas dendam, iri, dengki, dan kebencian. Pandangan ini menunjukkan bahwa orang-orang merasa bersalah, sebab  memiliki dorongan anti-sosial dan keinginannya.

Ternyata rasa bersalah bukanlah gangguan jiwa, tetapi menjadi bahan yang menghasilkan gangguan jiwa. Rasa bersalah yang berlebihan akan menimbulkan masalah neurotik, seperti gangguan obsesif-kompulsif, depresi, dan kecemasan. Perasaan bersalah bisa menjadi madu untuk muhasabah diri. Namun, bisa berubah menjadi racun bila membiarkan diri tenggelam dalam perasaan bersalah. Semuanya ada di tangan Anda.

Level paling parah dari perasaan seperti ini akan berujung pada luka psikologis.  Rasa tertekan, trauma, bahkan memilih bunuh diri. Menurut aliran human behavior, bunuh diri adalah bentuk pelarian diri dari dunia nyata atau lari dari situasi yang tidak bisa ditolerir (Kartono, 2000:143). Ngeri bukan, bunuh diri bukanlah solusi menghilangkan rasa bersalah.

“... jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum kafir.” (QS. Yusuf:87)

Lalu, apa yang mesti dilakukan? Nah, Pertanyaan ini yang akan terus menyapa diri.

Jangan Tenggelam dalam Rasa Bersalah

Langkah awal yang harus Anda ingat dan pahami ialah Anda tidak pernah sendiri. Di luar sana, masih banyak orang-orang yang lebih parah dari Anda dalam menghadapi sebuah masalah. Maka, berusahalah untuk keluar dari rasa bersalah. Terus mencoba bersosialisasi untuk mengurangi rasa bersalah.

Sesungguhnya seorang mukmin apabila berbuat dosa akan ada di dalam hatinya noda hitam. Seandainya ia bertobat, meninggalkannya dan memohon ampunan, maka akan hilanglah noda hitamnya. Apabila ia menambah (dosa) niscaya akan bertambah, sehingga akan menutup hatinya,” (HR Tirmidzi)

Ibarat kain putih, perasaan bersalah muncul dari hati yang paling dalam nan bersih. Sekecil apapun noda itu akan tetap nampak dipandang. Tentunya, akan merusak penampilan kain tersebut. Sama halnya dengan hati manusia. Bila dikuasai oleh hawa nafsu, maka hati telah ternoda.

Pelajaran Bukan Kenangan

Sependapat dengan pepatah “Keledai tidak akan terperosok pada lubang sama dua kali”. Olehnya itu, cobalah untuk bangkit. Jangan terlalu terbelenggu saat rasa seperti ini menderamu.  Kesalahan yang pernah dilakukan menjadi pelajaran penting betapa pahit dan mahalnya sebuah kesalahan.

Adanya perasaan bersalah menjadi kesempatan untuk bercermin dan memperbaiki diri, etika dan berbicara dalam bergaul. Patut disyukuri, tidak semua orang memiliki rasa bersalah. Perasaan seperti ini akan mendorong Anda untuk lebih berhati-hati dan menjauhi perbuatan negatif. Percayalah, rasa itu merupakan bentuk cinta dari Sang Pencipta.

Be Positive Be Happy

Janganlah terus menghakimi diri dengan perasaan bersalah. Don’t worry, Allah itu Maha Pengampun. Selalu ada jalan pulang ke jalan-Nya selama nafas masih ada. Teruslah berpikir positif, agar diri kian benci dengan perbuatan dosa.  Semakin kuat pula keinginan untuk jadi orang yang lebih baik lagi.

Bangun rasa optimis dan senantiasa bersikap positif. Ketika diri mampu mengalahkan pikiran-pikiran negatif dan menggantinya dengan hal positif, maka jiwa dan raga akan sehat lahir batin. Kunci kebahagiaan adalah berpikir dan bersikap positif. Sedih dan bahagia berawal dari pikiran dan dikendalikan dengan pikiran.

Tunggu apalagi, mulailah berbenah diri. Jangan biarkan rasa bersalah yang berlebihan merampas kebahagiaan dan senyuman Anda. Seseorang yang berjiwa positif, akan semakin tunduk pada kekuasaan Sang Pencipta. So, stay positive!

 


Penulis: Ella, content writer Pronesiata.id.

 

Pronesiata

Kami percaya jika semua tulisan layak untuk dibagikan. Tak perlu harus sempurna! Media ini ruang bagi semua yang memiliki karya tulisan.

© pronesiata.id. All Rights Reserved.