Sat, 13 Apr 2024
Warta / Jan 06, 2021

Perjanjian Tellumpoccoe: Bone, Soppeng dan Wajo

Bosowa adalah sebuah hasil pengakroniman dari Bone, Soppeng dan Wajo. Istilah ini muncul pasca terjadinya sebuah persekutuan antara tiga kerajaan Bugis terbesar yang ada di Sulawesi Selatan yakni kerajaan Bone, kerajaan Soppeng dan kerajaan Wajo.

Persekutuan ini dinamakan "Perjanjian Tellumpoccoe", kata Tellu berarti tiga dan Poccoe berarti puncak. Perjanjian ini berlangsung pada tahun 1582 di sebuah tempat yang bernama Bunne, Desa Timurung yang kini bernama Desa Allamungeng Patue, Kecamatan Ajangale, Kabupaten Bone.

Sebelum berlangsungnya perjanjian ini, dilakukan sebuah upacara ritual sumpah dengan cara Maddeppa' Tello (memecahkan sebuah telur dengan batu) dengan maksud bahwa perjanjian telah dimulai. Perjanjian ini dihadiri oleh La Tenri Rawe Bongkang'e yang merupakan raja Bone yang ke VII, sementara dari Wajo dihadiri oleh La Mungkace To uddamang Arung Matowa, sedangkan dari Soppeng dihadiri oleh La Mappaleppe' Pong Lipue.

Bone kemudian diakui sebagai saudara paling tua, kemudian Wajo adalah saudara tengah, dan Soppeng adalah saudara paling muda. Proses urutan persaudaraan ini ditetapkan berdasarkan dengan luas wilayah masing-masing. Sebenarnya ketika merujuk pada persoalan luas wilayah dan urutan persaudaraan, maka yang benar adalah Bone-Wajo-Soppeng (BOWASO), bukan Bone-Soppeng-Wajo (BOSOWA), namun ini tidak menjadi permasalahan sampai sekarang.

Proses perjanjian ini dilakukan dengan cara Mallamung Patu (Menenggelamkan batu di tanah), sebagai tanda bahwa perjanjian mereka telah disepakati dan dianggap sah pada masa itu. Perjanjian ini dimaksudkan untuk mempersaudarakan tiga kerajaan tersebut, guna untuk melawan gempuran kerajaan adikuasa pada masa itu.

Adapun beberapa ikrar yang terucap oleh masing-masing kerajaan yakni:

1. Rebba sipatokkong (saling menegakkan ketika ada yang tersungkur), malilu sipakainge' (mengingatkan ketika ada yang tidak taat pasa kesepakatan), siaddapi-dapireng ri peri' nennia nyameng'e (saling membantu dalam keadaan suka maupun duka).

2. Tessibaiccukeng (tidak saling mengecilkan peran), tessicinnaiyyang ulaweng matasa' (tidak saling memperebutkan harta dan takhta).

3. Tessitortongeng warang parang nennia tessipaluttu ana' parakeana' (tidak saling memperebutkan harta benda dan berlaku bagi generasi penerus masing-masing).

4. Tempettu-pettu sianreng pada-padapi napettu (tidak akan putus satu persatu melainkan semua harus putus), tennawa-nawa tomate jancitta' tennalariang anging ri saliweng bittara (perjanjian ini tidak akan batal ketika kita mati dan tidak akan lenyap ditiup angin ke luar langit), temmalukka adangetta' natettongi Puang Dewata Sewwae (perjanjian kita tidak akan batal dan disaksikan oleh Tuhan yang Maha Esa).

5. Sirekkokeng tedong mawatang (saling menundukkan kerbau yang kuat), sipolongeng poppa (saling mematahkan paha), silasekeng tedong nennia siteppekeng tanru tedong (saling mengebirikan kerbau dan saling memotong tanduk kerbau). Artinya, mereka akan selalu bersama-sama mengirimkan panglima perang yang kuat untuk melumpuhkan musuh yang kuat pula.

Sekilas mengenai perserikatan yang dijalin oleh tiga kerajaan yakni Bone, Soppeng dan Wajo yang disebut "Perjanjian Tellumpoccoe.” Semoga dapat menambah wawasan dan cakrawala bagi kaum muda, mengingat betapa pentingnya untuk mengenal sejarah mengenai kearifan lokal yang kemudian akan menjadi penyokong dalam menemukan jati diri kita yang sebenarnya.

 

 

Penulis: Rahmat Achdar, mahasiswa Jurusan Ilmu Perpustakaan, Fakultas Adab dan Humaniora, UIN Alauddin Makassar semester 8.

Pronesiata

Kami percaya jika semua tulisan layak untuk dibagikan. Tak perlu harus sempurna! Media ini ruang bagi semua yang memiliki karya tulisan.

© pronesiata.id. All Rights Reserved.