Mon, 24 Jun 2024
Cerpen / Dec 07, 2023

Buih Cinta Meninggalkan Lara

Pagi itu di kelas XI IPA pertama kali aku menemukannya. Pertama kali aku mengenalnya. Satria Adinata, laki-laki dingin nan keras kepala yang membuatku jatuh cinta pada pandangan pertama.

Membuat aku terobsesi untuk memilikinya. Mencintai dalam diam itu, menyiksa. Sama halnya dengan membunuh jiwa perlahan. Dan aku, tidak ingin. Hingga aku putuskan untuk mengutarakan.

Naas. Mungkin nasib buruk takdirku kala itu. Berkali kali berusaha, sebanyak itu pula aku tidak diterima. Sampai pada waktu aku memahami satu kalimat bahwa, cinta ada dan nyata. 

Cinta tak harus memiliki. Cukup syukuri kehadirannya dan cintai sewajarnya. Bukan perkara mudah memang. Namun waktu yang tahu, kapan kita akan benar benar ikhlas dalam memaknai arti cinta.

Hari hari berlalu, hingga pada suatu ketika dia datang dan berkata kembalilah seperti dulu. Tanpa recokanmu, hidup saya sepi. Aku diam. Menyimak dialog antara hati dan isi kepala.

Sore itu Nara berlari kencang menuju ruang musik. Dia lupa bahwa seseorang tengah menunggúnya di sana. Sesampainya di sana, pintu ruang musik tertutup.

“Mampus gue, calon imam kayaknya marah lagi nih" seru gadis itu dengan nafas yang masih tersengal-sengal. 

Baru satu langkah Nara melangkah, pintu hijau itu tiba-tiba terbuka. Muncullah sosok Nata yang tampaknya sedang menahan amarah dengan tangan bersedekap di dada.

“Jam berapa ini Ra? Jangan bilang kalo kamu lupa untuk yang kesekian kalian” ucap laki-laki kulkas itu tanpa menatap ke arah Nara.

“Serius pak, kali ini Nara bener bener lupa” gadis itu mengacungkan dua jarinya sambil mengerling genit. 

Berharap Nata akan luluh dan memaafkannya. Nata menghela nafas lelah dan menarik Nara masuk ke dalam ruangan tersebut. Gadis bermata sipit itu pun bernapas lega.

“Besok besok ga bakal lupa lagi deh, janji" ujar Nara sambil menjulurkan jari kelingkingnya lantas menggenggam tangan Nata.

”Hemm." singkat respon Nata. 

Seketika Nara berdiri di depan laki laki itu dan memeluknya erat. Nata terkejut, sedikit terhuyung karena Nara yang tiba-tiba mendekap erat tubuh mungil itu agar tidak terjatuh. 

"Maafin aku ya. Natanya Ara. Ara janji besok besok ga bakal lupa lagi" Nara menatap manik indah milik Nata. 

Memandang paras menggemaskan Ara, Nata tidak berkata apa apa. Nata menyerah. 

Hatinya sudah benar benar jatuh pada pesona seorang gadis cantik-Nara Putri Kanza yang siapa sangka, guru killer sedingin kulkas, berparas tampan, ditakuti oleh siswa-siswi SMA.

Semesta ini akhirnya takluk oleh Nara yang sudah berkali kali ditolak sebelumnya.

“Iya saya maafin, tapi sekarang lepasin saya", “Bentar pak. Ara takut ga bisa meluk bapak kaya gini lagi" Nara semakin mengeratkan pelukannya.

“Emang saya mau kemana?" Sambil mengusap kepala Nara lembut.

“Hem.. gatau. Kemanapun bapak pergi, Ara akan selalu ikut bapak".

“Iya deh, sekarang ayo mulai latihan. Saya mau lihat penampilan kamu yang terbaik, dan paling baik dari yang lain" 

Nara melepas pelukannya. “Utu tu.. So Sweet banget sih Natanya Ara" gemes Ara mengusap usap pipi Nata.

Cowo itu tersenyum manis lalu menarik Nara dan mendaratkannya di atas kursi. Mengambil gitar dan meletakkan di atas pangkuan Nara.

“Aduh pak, jari-jari Ara masih sakit. Ternyata belajar gitar ga semudah yang Ara pikir" ujar gadis itu sambil menunjukkan jarinya yang masih terasa sakit.

Nata menerima uluran tangannya lalu mengecup jari jari Nara yang tampak memerah. 

“Sudah sembuh. Sekarang ayo latihan" Nata tersenyum simpul melihat pipi Nara merona. 

“Tuhan... Ara baper”

“Kamu bawel banget ya. Sekarang ayo mulai latihan atau saya tinggal"

Waktu sudah menunjukkan pukul 17:00 WIB. Namun hujan belum juga reda sedangkan Nata dan Nara sudah menyelesaikan latihannya sepuluh menit yang lalu.

"Ayo pulang. saya takut mama kamu khawatir" ucap Nata beranjak dari duduknya disusul Nara mengekor di belakangnya.

“Ara sayang Nata sampai kapanpun” ungkap gadis itu tiba tiba lalu menggenggam tangan Nata. 

“Sekalipun saya ga disampingmu lagi?" “kemana?" mereka sampai di tempat parkir mobil yang sudah mulai sepi.

“Ke tempat yang jauh mungkin" Nata membukakan pintu untuk Nara. 

Mobil Nata melaju meninggalkan sekolah. Sepanjang perjalanan, hening. Nara masih terdiam atas jawaban Nata. Kabut yang tebal membuat Nata kesusahan melihat jalan raya dengan jelas. 

Hingga beberapa detik kemudian, ketika melintasi perempatan jalan, truk melaju dengan cepat dari arah berlawanan. Kecelakaan pun tak dapat dihindari. Mobil Nata terguling mengeluarkan asap.

Gadis bermata sipit itu terbangun dari tidurnya. Menangis. Bayangan peristiwa 2 tahun silam masih terus menghantuinya. Nara beranjak menuju meja belajar dan mengambil sebuah piala.

“Ara menang audisi Nata" Nara tersenyum hambar.

Dia harus menerima bahwa Nata, laki laki yang sangat dia sayangi, sudah benar benar pergi. Selama-lamanya.

Tangan mungil itu beralih pada foto yang ia letakkan di dalam laci meja. Air matanya mengalir deras. Gambar itu adalah foto dirinya dengan seseorang yang dicintai, namun sudah tiada.

 
 
Penulis: Kristia Putri Puspitasari, dapat ditemui melalui instagram @krstiaputri.p. 

Pronesiata

Kami percaya jika semua tulisan layak untuk dibagikan. Tak perlu harus sempurna! Media ini ruang bagi semua yang memiliki karya tulisan.

© pronesiata.id. All Rights Reserved.