Kyai Mimbar
Di kota Kediri yang pagi itu diselimuti kabut tipis, Surya duduk termenung di ruang tamunya yang luas. Rumahnya mewah, mobilnya banyak, hartanya tak terhitung.
Namun tak ada satu pun yang mampu menghapus rasa putus asanya. Penyakit misterius itu telah menggerogotinya selama berbulan-bulan, dan semua orang—dokter, tabib, kyai, bahkan dukun—mengangkat tangan. Beberapa bahkan mantap menyatakan, “Kurang dari setahun ya Pak Surya!” malah seperti mengingatkan.
Surya menatap langit-langit rumahnya, berharap ada jawaban datang dari udara. Tetapi jawaban itu tidak datang. Hanya sepi dan rasa sakit yang bersarang di tubuhnya.
Hingga suatu malam, dalam tidur yang nyaris tanpa harapan, ia bermimpi. Seorang pria memanggilnya, menuntunnya menuju lereng Wilis. Mimpi itu begitu nyata, jalan setapak, suara air, bau tanah basah—semua tertanam di ingatannya.
“reneo le..! reneo!”
Tapi mimpi itu terus menghantui, malam demi malam. Surya mulai mencatat semua yang diingatnya: ciri-ciri orang itu, jalan yang harus dilewati, batu besar di persimpangan, pohon mangga di sisi kanan.
Setelah berminggu-minggu menimbang, Akhirnya, dengan tekad nyaris putus asa, ia memaksakan untuk pergi, ke tempat tersebut. Ia menelfon beberapa temannya, namun tak ada satupun yang datang. Ada yang tidak mengangkat telfon, ada pula yang mbulet dengan berbagai alasan
Jalan satu-satunya adalah mengajak Peno dan Wagimin. Memang kedua sahabat itu awalnya menolak, tapi Surya mengintipkan mata tajam yang biasanya digunakan untuk menawar tanah dan mobil, dan akhirnya mereka menurut—meski dengan keluhan berlapis.
“Sakit kok malah ngajak mendaki gunung, aneh?” Peno protes saat mobil melaju ke arah lereng Wilis.
“Ini ndak ndaki pen.. ini namanya wisata,” Wagimin menambahkan sambil mengaduk-ngaduk kopi sachet di botol termos.
Surya menarik napas panjang,
“Ini bukan wisata. Jangan banyak bicara!”
“Tapi Surya, kalau cuma jalan-jalan, kita bisa lebih nyaman di Malang, ada mall bagus,” Peno menimpali, setengah serius, setengah bercanda.
Setelah tiga setengah jam, akhirnya mereka sampai di sebuah kampung kecil di kaki lereng Wilis. Surya menanyai beberapa penduduk, menggambarkan pria dalam mimpinya. Penduduk saling pandang, lalu tertawa kecil.
“Oh, sampeyan maksud Kyai Mimbar, ya?” seorang ibu-ibu menunjuk rumah sederhana di pinggir sawah.
“Eh, serius? Kyai Mimbar?” Wagimin bergumam, menatap rumah kayu tua dengan cat yang sudah mengelupas.
“rumahnya di sana lo, dekat sungai, bawah pohon trembesi, sambil menunjuk sebuah gang kecil.
Orang yang mecari dia berarti mau dipanggil?”jawab ibu-ibu yang menggendong bakul beras, dan mulai berjalan
“haa … Dipanggil”
“berarti…” Wagimin dan Peno saling menatap ngeri
“Dipanggil matamu Iku” suara surya emosi
“Wis ayo ndang ke sana” Surya masih cemberut
Akhirnya mereka mendekat. Dari pintu rumah, keluar seorang pria paruh baya, dengan topi lusuh dan senyum lebar yang nyaris seperti tukang ludruk. Ia menyambut mereka sambil membungkuk-bungkuk, tertawa terkekeh.
“Selamat datang, di rumah saya Aduh, teman-temannya ikut semua ya? Wah, ini rumahku tiba-tiba jadi ramai,” ujarnya sambil menunduk hormat tapi dengan canda yang jelas.
“Ah… eh… Kyai?” Surya terkejut, melihat keluguannya.
Masuklah, masuklah!” kata Kyai Mimbar sambil menepuk-nepuk bahu Surya. Peno dan Wagimin saling pandang, menahan tawa. “Ini kyai apa pelawak keliling?” bisik Peno.
Wagimin hanya mengangguk setuju, menahan tawa.
“Ayo silahkan duduk, silahkan bokongnya ditaruh wadah bokong” Kyai itu tertawa terbahk-bahak sambil menunjuk kursi
Peno dan Wagimin saling pandang sambil menahan tawa, pikirnya, orang sepertinya memang pemain ludurk
Setelah duduk, Tanpa menunggu lama, Surya menceritakan semua perihal penyakitnya, semua dokter yang sudah gagal, semua tabib yang menyerah, bahkan ramalan dukun yang “mantap”.
Kyai Mimbar mendengarkan sambil terkekeh, terkadang menepuk pundak Surya, terkadang mengelus dagu seolah memikirkan lelucon paling konyol. “Waduh, Pak Surya, kalau begitu saya mesti pakai ilmu sulap juga, ya?” katanya sambil menahan tawa.
. “Kyai, serius dong. Ini penyakit serius, bukan pertunjukan ludurk” Peno tidak bisa menahan diri
Tapi tiba-tiba Kyai Mimbar menjadi serius.
“Dengar, Surya. Yang bisa menyembuhkan penyakitmu… ya dirimu sendiri.” Ia menatap Surya tajam, namun matanya masih berkilau menyembunyikan senyum.
“Obat segala penyakit ada di dalam dirimu sendiri. Obat dari segala penyakit, solusi setiap masalah. Namanya obatnya? Sabar. Sabar yang benar, bukan sabar pura-pura.”
“Obat sabar?” Surya terdiam, matanya menatap Kyai Mimbar menahan amarah dan kebingungan sekaligus.
“Yoi, sabar. Tapi sabarnya bukan cuma menahan sakit, tapi juga menahan diri dari mengambil yang bukan hakmu, meskipun sangat menggoda.” Kyai Mimbar terkekeh lagi, lalu menambahkan,
“Kalau mau serius, puasa, tapi jangan puasa cuma makan, puasa hati juga, lho!”
Peno tergelak. “Jadi, kita harus jadi suci sambil menahan diri dari godaan dunia?”
Peno menahan tawa. “Kyai… serius atau bercanda lagi?”
Kyai Mimbar mengangguk, sambil tersenyum
Surya mengernyit, tapi ada sesuatu yang aneh—sebuah ketenangan. Ia memutuskan mencoba saran Kyai Mimbar.
Dan seperti kebiasaan Kyai Mimbar, ia kembali tertawa lepas.
“Eh, jangan serius terus! Kita bercanda sebentar, biar tidak tegang!” lalu dia tertawa terbahak-bahak Lalu Kyai Mimbar kembali bercanda, lebih liar dari sebelumnya.
Ia mulai mengikuti saran Kyai Mimbar. Tidak langsung sembuh, tentu saja. Selama beberapa minggu, Surya belajar sabar. Ia menahan godaan, menahan emosi, dan menahan diri dari segala sesuatu yang berlebihan.
Ia belajar melihat kesederhanaan, menghargai hal-hal kecil, bahkan bercanda dengan Peno dan. Hasilnya tubuhnya terasa lebih ringan. Mimpi buruknya berkurang, dan rasa putus asa perlahan memudar. Ia belajar menahan diri, tidak tergoda, dan menemukan kepuasan dalam kesederhanaan yang dulu diabaikan.
Suatu hari, ia berniat mengunjungi Kyai Mimbar untuk memberi hadiah sebagai ucapan terima Tapi anehnya, rumah itu selalu kosong. Penduduk hanya tersenyum, “Ah, Kyai Mimbar? Dia memang suka hilang, Pak. Seperti angin.”
Surya akhirnya memahami. Kyai Mimbar bukan sekadar orang, bukan sekadar kyai, bukan pula tukang ludruk. Ia adalah cermin yang membuat Surya menemukan obatnya sendiri: sabar.
Di mobil, dalam perjalanan pulang, Surya menatap Peno dan Wagimin.
“Ternyata, yang paling mahal itu bukan rumah mewah, bukan mobil, tapi sabar. Dan kadang, tukang ludruk paling jenius yang bisa memberikannya.”
Wagimin terkekeh,
“Jadi selama ini kita diantar ‘wisata kesehatan’ ya?”
“Betul! Wisata hati,” Surya tersenyum, menahan diri untuk tidak tertawa terbahak-bahak di tengah jalan.
Peno menambahkan,
“Kalau begitu, jangan-jangan semua dokter, tabib, kyai, dukun, itu cuma agen tiket masuk wisata hati?” Surya menatap keduanya sambil tersenyum.
“Mungkin begitu. Tapi yang pasti, yang kamu butuhkan bukan resep mahal atau ramuan langka.
Hanya sabar… dan sedikit ludruk.”
Dan di Kediri, di lereng Wilis yang sejuk, Kyai Mimbar mungkin sedang duduk di bawah pohon, tertawa sendiri, sambil menonton dunia yang sibuk mencari obat paling mahal. Padahal, obat itu selalu ada di tangan mereka sendiri.
Penulis: Mohammad Afin Masrija, Guru MAN 2 Kota Kediri.