Wed, 28 Feb 2024
Editorial / Aug 27, 2023

Kota-kota dan Polusi Udaranya

Isu kualitas udara di Indonesia terutama kian memprihatinkan. Polusi udara di Jakarta berdasarkan data yang dilansir IQAir, tingkat polusi dinyatakan “Tidak sehat bagi kelompok sensitif” pada 25 Agustus 2023. 

Berdasarkan Open Data Jabar, Jakarta menduduki peringkat delapan dengan nilai 43. Polusi udara tidak hanya terjadi di Jakarta, kualitas udara di Tarumajaya, Bekasi bahkan menduduki peringkat kedua dengan mencapai nilai 51 dan dikategorikan “tidak sehat”.

Peringkat pertama diduduki Tangerang Selatan dengan nilai 56. Beberapa wilayah di Kalimantan pun juga termasuk dalam 10 besar wilayah dengan kualitas terburuk.

Polusi partikel 2,5 micron atau PM 25 di Indonesia pada tahun 2022 telah menyandang polusi terburuk ke-26 di antara 131 negara. Indonesia bahkan menjadi negara dengan kualitas udara terburuk se-ASEAN.

Polusi udara dapat disebabkan oleh beberapa hal dan dapat ditentukan seberapa besar dampaknya. Mengutip paparan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya, terkait peningkatan kualitas udara Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi (Jabodetabek).

Sektor transportasi merupakan pengguna bahan bakar paling besar di Jakarta. Hasil rapat tersebut juga memaparkan data bahwa sektor transportasi berkontribusi sebesar 44% dari penggunaan bahan bakar di Jakarta, diikuti industri energi 31%, lalu manufaktur industri 10%, sektor perumahan 14%, dan komersial 1%. 

Penghasil emisi karbon monoksida (CO) terbesar, disebutkan disumbang dari sektor transportasi sebesar 96,36% atau 28.317 ton per tahun, disusul pembangkit listrik 1,76% 5.252 ton per tahun dan industri 1,25% mencapai 3.738 ton per tahun.

Polusi udara Jabodetabek menjadi perbincangan di mana-mana hingga membuat Presiden Jokowi Widodo mengadakan rapat terbatas soal ini pada pekan lalu. Hasilnya, Jokowi mengeluarkan lima instruksi. Pertama, rekayasa cuaca untuk memancing hujan di kawasan Jabodetabek. 

Kedua, regulasi percepatan penerapan batas emisi salah satunya dengan memperbanyak ruang terbuka hijau. Ketiga,  work from home, WFH adalah kebijakan yang mendesak Dan menjadi jalan pintas untuk memangkas polusi udara di kawasan Jabodetabek. 

Hasil riset mengenai efektivitas WFH terhadap pengurangan polusi yang dilakukan di Barcelona, Spanyol, pada 2021 menyatakan bahwa pemberlakuan WFH selama 2 - 4 hari dalam sepekan dapat mengurangi emisi NOx 4 - 10%.  Kebijakan WFH akan lebih efektif jika dibarengi dengan kebijakan lainnya. 

Selama masa WFH, pemerintah dapat melakukan perbaikan fasilitas transportasi umum, integrasi antarmoda, dan pengadaan bus. Keempat, beralih ke transportasi massal, pemerintah juga diharapkan dapat membuat kebijakan baru mengenai pembatasan kendaraan pribadi. 

Berbagai kebijakan yang ditetapkan diharapkan dapat mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap kendaraan pribadi dan memilih transportasi umum atau transportasi ramah lingkungan. Kelima, mitigasi perubahan iklim dengan melakukan pengawasan pada sektor industri dan pembangkit listrik. 

Pemerintah Indonesia juga dapat belajar dari Beijing, China yang berhasil mengendalikan polusi udara di kawasan tersebut dengan berbagai kebijakan yang ditetapkan. Hasil yang didapat selama tahun 2013-2017 mampu mengurangi 39% emisi dalam kurun waktu lima tahun.

Kegiatan masyarakat di lingkungan rumah juga perlu diperbaiki demi menjaga kualitas. Masyarakat perlu mendapatkan edukasi mengenai faktor dan dampak dari polusi udara. 

Berdasarkan data peringkat PM 2,5 pada tahun 2022, Chad yang terletak di Afrika Selatan menyandang polusi udara terburuk di peringkat pertama. Hal itu akibat pembakaran sampah yang masih menjadi praktik umum di kalangan masyarakat ditambah parahnya aktivitas di industri pertambangan dan tekstil.

Belum lagi pembangkit listrik berbahan batubara, ekstraksi minyak bumi, dan emisi kendaraan bermotor. Pembakaran sampah di Indonesia menjadi aktivitas umum di lingkungan rumah bahkan sekolah. 

Tentu hal tersebut membutuhkan penanganan rumit dalam membenahi sistem pengelolaan sampah di Indonesia. Polusi udara di kawasan Jabodetabek menjadi pelajaran bagi kawasan lainnya agar tidak ada polusi udara yang parah di kawasan lain.

Faktor dan dampak yang terjadi dari polusi udara menjadi pembelajaran dalam membenahi tata kelola kota, kebiasaan, dan aturan lainnya demi kehidupan yang sehat. Aksi menjaga kualitas udara dapat dimulai dari lingkungan sekitar dan membenahi kebiasaan diri sendiri.

 

Penulis: Felita Sukanti, mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan jurusan Kimia di Universitas Jember. Dapat ditemui melalui instagram @felita.nti

Pronesiata

Kami percaya jika semua tulisan layak untuk dibagikan. Tak perlu harus sempurna! Media ini ruang bagi semua yang memiliki karya tulisan.

© pronesiata.id. All Rights Reserved.