feature-top

Perempuan Bukan Objek Senda Gurau

Mari mengeja sama-sama makhluk yg kita sebut perempuan.
Dari namanya saja menyimpan makna tersirat bukan?
Miliki kodrat melahirkan & mendidik generasi.
Ia cenderung lemah lembut atas simbol kerahiman miliknya.
Ia justru puan penentu arah peradaban
Ia seharusnya tuan atas tubuhnya sendiri

Lantas, mengapa ia kerapkali hanya dijadikan objek senda gurau?
Diteror dengan kata-kata manis.
Dipelototi gerak-geriknya
Dikebiri hak dasarnya di ruang-ruang publik
Bahkan tak diberi ruang nyaman & aman dikeluarga sendiri.

layaknya manusia, bagaimana bisa ia tumbuh berkembang?
berani unjuk suara, siap-siap dicap pembangkang
Melangkah keluar rumah disangka aib
Segala tindak tanduknya ditakar macam-macam.
Seolah dilaknat bila bertahan pada ideologi sendiri.

Andai kita punya pandangan dunia yg sama atas perempuan.
Ia bukan penjaraan, melainkan penjagaan.
Tidak patut didosmestifikasi, sebab ia pun punya keinginan bebas berkarya.
Hanya perlu memberi perempuan rasa hormat.
Hadirkan ruang lingkup ramah perempuan di segala lini kehidupan
Toh, dampaknya bumi pertiwi tentu akan kembali damai.
Sebab, perempuan salahsatu penyeimbang negeri yg sedang carut marut ini.

*

Kembalikan Ruang Ramah Perempuan

Siapa sangka akhir-akhir ini,
media seperti berbondong-bondong merilis berita kekerasan terhadap perempuan.
Seperti ingin menolak membacanya, tapi itu peristiwa nyata adanya.

Sangat tergelitik dan menguras emosi sekiranya
pelakunya tidak lagi memilah milih tatanan tempat.
Siapapun memang potensial menjadi pelaku.
Sayang, Justru orang yg statusnya paling dekat tentu mengagetkan warganet bila dikabarkan telah menjadi pelaku.
Tapi, siapa yg ingin menyangkalnya?
Semua tempat tidak lagi aman bagi perempuan.

Paman yg biasanya menjaga kemanakan perempuannya justru hanya ikut mengancam bila tidak dipenuhi hasrat seksualnya.
Saudara kandung yg seyogianya mengawasi gerak adik perempuannya justru memaksa bersetubuh dengannya.
Ibu yang seharusnya membela bila anak perempuannya dilecehkan justru menyalahkan penampilan si anak perempuan.
Ayah yg semestinya melindungi putrinya justru ikut merenggut benteng diri anak perempuannya.
Sungguh memilukan bukan?
Ruang keluarga tidak lagi sepenuhnya aman & nyaman.

Aparat kepolisian yg tugasnya mengayomi justru memperkosa perempuan terdekatnya.
Ustadz yang dianggapnya guru malah menjadikan santri budak seksual.
Kampus yang dipercaya sebagai tempat memanusiakan tau-tau toilet khusus perempuan ditarohi cctv.
Wakil rakyat yg seharusnya merumuskan kebijakan mencegah kekerasan seksual malah menolak mengesahkan RUU TPKS
Miris sangat miris.

Para feminis tengah berteriak lantang
“Kembalikan ruang aman bagi perempuan.”
Sayang sekali, bila tidak jua disuppowrd oleh segenap element
Tak mungkin menuai hasil yg optimal.
Gerakan yg diusung para feminis tentu hanya mandek bila otak laki-laki yg kotor lebih mendominasi.
Siapapun kamu?
Sudah harus sadar diri, sadar peran.
Ciptakan relasi sensitif gender di ruang lingkupmu.
Bersama-sama mengembalikan ruang ramah perempuan.



Penulis : Susi Susanti, Ketua Bidang Pemberdayaan Perempuan PB HIPERMATA.